YPAKMedia.com - Telur menjadi salah satu bahan makanan yang hampir selalu ada di dapur masyarakat Indonesia. Selain harganya terjangkau, telur juga dikenal kaya protein dan mudah diolah menjadi berbagai menu sehari-hari.
Namun, saat berbelanja di pasar atau supermarket, banyak orang sering bingung memilih antara telur cokelat dan telur putih. Tidak sedikit yang menganggap telur cokelat lebih sehat, lebih alami, atau memiliki kandungan gizi lebih tinggi dibanding telur putih.
Benarkah anggapan tersebut? Ternyata, perbedaan warna cangkang telur bukan disebabkan oleh kualitas nutrisi ataupun jenis pakan ayam. Ada fakta menarik di balik warna telur yang masih jarang diketahui banyak orang.
Penyebab Warna Telur Berbeda
Warna cangkang telur sebenarnya ditentukan oleh faktor genetika atau ras ayam petelur. Jadi, warna telur tidak ada hubungannya dengan paparan sinar matahari, jenis kandang, maupun lokasi peternakan ayam.
Petani sekaligus edukator pertanian, Patrick Muhammad, menjelaskan bahwa telur bercangkang putih umumnya berasal dari ayam ras Leghorn. Jenis ayam ini banyak digunakan dalam industri peternakan modern karena ukuran tubuhnya relatif kecil dan lebih efisien dalam konsumsi pakan.
Ayam Leghorn memiliki bobot sekitar empat hingga lima pon sehingga membutuhkan ruang pemeliharaan lebih sedikit. Hal ini membuat biaya produksi telur putih menjadi lebih rendah dibanding telur cokelat.
Sementara itu, telur cokelat biasanya dihasilkan oleh ayam ras Rhode Island Red, Buff Orpington, atau Barred Rock. Ayam-ayam tersebut memiliki tubuh lebih besar sehingga memerlukan asupan pakan lebih banyak agar produksi telurnya tetap stabil.
Karena biaya pemeliharaan lebih tinggi, harga telur cokelat di pasaran juga sering kali lebih mahal dibanding telur putih.
Mitos Telur Cokelat Lebih Sehat
Selama ini berkembang anggapan bahwa telur cokelat berasal dari ayam yang dipelihara secara alami atau diberi pakan khusus sehingga dianggap lebih sehat.
Padahal, menurut Patrick Muhammad, anggapan tersebut tidak benar. Warna cangkang telur murni dipengaruhi genetika ayam, bukan kualitas pemeliharaan maupun kandungan gizinya.
Artinya, telur putih dan telur cokelat bisa memiliki kualitas yang sama jika berasal dari sistem peternakan dan pakan yang serupa.
Tidak Hanya Putih dan Cokelat
Menariknya, telur ayam sebenarnya tidak hanya memiliki dua warna umum tersebut. Di beberapa negara, ada ayam yang mampu menghasilkan telur berwarna biru, hijau, merah muda, hingga cokelat tua.
Warna unik itu berasal dari ras ayam tertentu yang memiliki pigmen berbeda pada cangkang telurnya. Meski demikian, telur berwarna unik masih jarang dijumpai di toko karena sebagian besar konsumen lebih familiar dengan telur putih dan cokelat.
Apakah Kandungan Gizinya Berbeda?
Berdasarkan keterangan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), tidak ada perbedaan signifikan kandungan gizi antara telur putih dan telur cokelat jika ayam diberi jenis pakan yang sama.
Kandungan protein, vitamin, mineral, dan nutrisi lainnya lebih dipengaruhi oleh pola pemeliharaan ayam, seperti sistem umbaran, bebas kandang, maupun kualitas pakan yang dikonsumsi ayam petelur.
Dengan kata lain, warna cangkang telur bukan penentu kualitas nutrisi.
Pilih Sesuai Kebutuhan dan Anggaran
Melihat fakta tersebut, masyarakat tidak perlu lagi bingung memilih telur putih atau telur cokelat. Keduanya sama-sama bergizi dan aman dikonsumsi untuk kebutuhan sehari-hari.
Pilihan telur terbaik dapat disesuaikan dengan selera, kebutuhan memasak, hingga anggaran belanja masing-masing. Jadi, jangan mudah percaya mitos bahwa telur cokelat pasti lebih sehat daripada telur putih.***
