Namun, ada satu predikat yang mungkin terdengar berlawanan dengan citra tersebut. Singapura justru dinobatkan sebagai negara dengan lingkungan paling tidak tenang atau paling bising dalam Noise-Free Nations Index terbaru.
Studi yang dilakukan agen perjalanan Go2Africa tersebut mengukur negara mana yang menawarkan suasana paling tenang bagi wisatawan. Dalam pemeringkatannya, Singapura hanya memperoleh Quiet Score 6,78 dari 100, sekaligus menempatkannya di posisi terbawah daftar.
Melansir Time Out Singapore, Senin (24/8/2026), penelitian ini tidak semata-mata mengukur tingkat kebisingan menggunakan suara desibel. Sejumlah faktor yang menggambarkan kepadatan dan intensitas aktivitas manusia turut diperhitungkan.
Ada tujuh indikator yang digunakan, yakni kepadatan penduduk, jumlah wisatawan, luas wilayah pedesaan, kawasan yang dilindungi, jumlah kendaraan bermotor, keberadaan bandara, serta jaringan kereta api.
Dari berbagai indikator tersebut, karakter Singapura sebagai negara kota menjadi salah satu faktor yang paling menonjol. Wilayah yang relatif kecil harus menampung permukiman, pusat bisnis, kawasan wisata, fasilitas publik, jaringan transportasi, hingga berbagai aktivitas ekonomi dalam ruang yang terbatas.
Akibatnya, mobilitas masyarakat dan wisatawan berlangsung dengan intensitas tinggi. MRT, kendaraan bermotor, serta aktivitas di sekitar bandara menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang turut memengaruhi penilaian dalam indeks tersebut.
Menariknya, predikat sebagai negara paling bising tidak serta-merta berarti Singapura merupakan destinasi yang tidak nyaman. Justru sebaliknya, kepadatan dan konektivitas tersebut menjadi salah satu alasan mengapa wisatawan dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan mudah.
Pusat bisnis, kawasan perbelanjaan, destinasi wisata, dan simpul transportasi berada dalam jangkauan yang relatif dekat. Kondisi ini membuat perjalanan menjadi praktis, tetapi pada saat yang sama menghadirkan suasana yang lebih aktif dan ramai.
Dalam daftar lima negara dengan Quiet Score terendah, Singapura bahkan berada cukup jauh di posisi pertama. Maladewa berada di urutan berikutnya dengan skor 8,48, disusul Barbados 10,12. Qatar menempati posisi keempat dengan 15,45, sementara Lebanon berada di peringkat kelima dengan skor 18,13.
Meski demikian, bukan berarti seluruh wilayah Singapura selalu ramai dan bising. Pengalaman wisatawan dapat berbeda bergantung pada lokasi, waktu, serta aktivitas di sekitarnya. Kawasan bisnis dan pusat transportasi tentu memiliki karakter berbeda dibandingkan ruang hijau atau area yang jauh dari pusat mobilitas.
Dengan demikian, hasil Noise-Free Nations Index justru memperlihatkan sisi lain dari Singapura. Negara ini mungkin bukan pilihan utama bagi wisatawan yang mencari kesunyian, tetapi menjadi destinasi menarik bagi mereka yang ingin merasakan kehidupan kota yang dinamis, cepat, terhubung, dan penuh aktivitas.
Predikat “negara paling bising” pada akhirnya bukan sekadar label negatif. Ia menjadi gambaran tentang bagaimana keterbatasan ruang, kepadatan penduduk, serta tingginya mobilitas membentuk karakter Singapura sebagai salah satu negara paling aktif dan terkoneksi di dunia.***