YPAKMedia.com - Pertanyaan ini terdengar sederhana, tapi sudah membuat banyak orang bingung selama ribuan tahun. Mana yang lebih dulu, ayam atau telur? Kalau dipikir sebentar, keduanya seperti saling membutuhkan. Ayam bertelur, tapi ayam juga lahir dari telur. Lalu, siapa yang memulai semuanya?
Pandangan Filsafat
Sejak zaman Yunani kuno, para filsuf sudah membahas pertanyaan ini. Bagi Aristoteles, ayam dan telur bukan dua hal yang bisa dipisahkan. Ia melihatnya sebagai sebuah siklus kehidupan yang tidak memiliki awal dan akhir. Dalam pandangan itu, tidak ada yang benar-benar “lebih dulu”. Alam bekerja dalam lingkaran yang terus berulang, dan pertanyaan tentang mana yang pertama tidak relevan.
Filsafat memandang pertanyaan ini bukan soal unggas, tetapi tentang asal mula segala sesuatu. Ia menantang kita untuk berpikir apakah kehidupan memiliki permulaan tunggal, ataukah semua hal di dunia saling melahirkan satu sama lain tanpa batas.
Pandangan Keagamaan
Dalam banyak kepercayaan, terutama dalam kisah penciptaan, makhluk hidup diciptakan lebih dulu sebelum berkembang biak. Jika mengikuti cara pandang ini, jawabannya sederhana: ayam lebih dulu. Tuhan menciptakan ayam, lalu ayam menghasilkan telur.
Pandangan ini berangkat dari keyakinan bahwa kehidupan berasal dari kehendak ilahi, bukan dari proses alamiah yang panjang. Maka tidak perlu ada kebingungan antara ayam dan telur, karena penciptaan menjadi titik awal segalanya.
Pandangan Ilmiah
Ilmu pengetahuan modern mencoba menjawabnya dengan logika dan bukti evolusi. Para ilmuwan memandang ayam sebagai hasil evolusi panjang dari spesies unggas purba. Dalam proses evolusi ini, mutasi genetik terjadi sedikit demi sedikit selama jutaan tahun.
Pada suatu titik, ada seekor hewan mirip ayam — belum sepenuhnya ayam modern — yang bertelur. Dalam telur itu, terjadi perubahan kecil pada DNA embrionya, yang membuat anaknya menjadi ayam seperti yang kita kenal sekarang. Jadi, secara ilmiah, telur datang lebih dulu, tapi telur itu bukan dari ayam, melainkan dari nenek moyang ayam.
Menariknya, para ilmuwan juga menemukan bahwa cangkang telur ayam terbentuk karena protein khusus yang hanya ada di tubuh ayam betina, yaitu ovocleidin-17. Tanpa protein ini, telur ayam tidak bisa mengeras. Jika kita berpegang pada fakta ini, maka justru ayam yang lebih dulu, karena telur tidak bisa terbentuk tanpa keberadaan ayam.
Kesimpulan
Pertanyaan tentang mana yang duluan, ayam atau telur, ternyata tidak punya satu jawaban mutlak. Dari sisi filsafat, keduanya adalah bagian dari siklus yang tidak berawal. Dari sisi keagamaan, ayam lebih dulu karena diciptakan langsung. Dari sisi sains, telur lebih dulu karena menjadi bagian dari proses evolusi panjang sebelum ayam modern muncul.
Jadi, jawabannya tergantung pada bagaimana kita memandang kehidupan itu sendiri. Apakah segala sesuatu punya awal yang pasti, ataukah semuanya adalah hasil dari rantai peristiwa yang tak berujung? Mungkin pada akhirnya, yang penting bukan siapa yang duluan, tapi bagaimana kehidupan terus berputar, bertumbuh, dan melahirkan sesuatu yang baru tanpa henti. ***