Kepercayaan mengenai terbukanya "pintu dunia gaib" pada Malam Satu Suro sudah berkembang sejak lama. Cerita turun-temurun menyebutkan bahwa pada malam tersebut, batas antara dunia manusia dan alam tak kasat mata menjadi lebih tipis. Karena itulah, berbagai fenomena aneh sering dikaitkan dengan malam ini.
Di sejumlah daerah di Jawa, masyarakat percaya bahwa suara-suara misterius yang muncul tengah malam, kemunculan sosok tak dikenal, hingga mimpi yang terasa sangat nyata lebih sering terjadi pada Malam Satu Suro. Meski sulit dibuktikan secara ilmiah, kisah-kisah semacam ini terus hidup dan menjadi bagian dari budaya masyarakat.
Salah satu konten Kreator yang aktif di TikTok dengan akun @initial.dk (Initial D) bahkan sempat mengunggah potongan wawancara Raditya Dika dengan Shoimah yang sedang membahas pengalaman di malam Suro.
Menurut Soimah, setiap Malam Satu Suro, dirinya selalu mendapatkan gangguan dari sesuatu yang berbau gaib.
Postingan dari akun @initial.dk (Initial D) di Platform TikTok tersebut, sontak menjadi perhatian dari warganet dengan mendapatkan like sebanyak 8.766 dari 401.800 viewer.
Kepercayaan tersebut juga melahirkan berbagai pantangan. Ada yang meyakini bahwa pindah rumah, menggelar pesta pernikahan, atau memulai usaha baru pada Malam Satu Suro dapat mendatangkan kesialan. Sebaliknya, malam ini dianggap lebih tepat digunakan untuk introspeksi dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Menariknya, banyak orang tua di pedesaan yang masih mengingatkan anak-anak mereka agar tidak keluar rumah tanpa alasan penting saat Malam Satu Suro tiba. Bukan karena takut semata, tetapi sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi yang diwariskan leluhur.
Terlepas dari benar atau tidaknya kepercayaan tersebut, Malam Satu Suro tetap memiliki posisi istimewa dalam budaya Jawa. Ia menjadi simbol bahwa manusia tidak hanya hidup dalam dunia yang terlihat, tetapi juga perlu menjaga sikap terhadap hal-hal yang belum sepenuhnya dipahami.
Mungkin itulah sebabnya hingga hari ini, setiap kali Malam Satu Suro datang, suasana terasa berbeda. Jalanan lebih sepi, masyarakat lebih khusyuk berdoa, dan berbagai cerita misteri kembali diperbincangkan seolah tidak pernah kehilangan daya tariknya.***
Kepercayaan tersebut juga melahirkan berbagai pantangan. Ada yang meyakini bahwa pindah rumah, menggelar pesta pernikahan, atau memulai usaha baru pada Malam Satu Suro dapat mendatangkan kesialan. Sebaliknya, malam ini dianggap lebih tepat digunakan untuk introspeksi dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Menariknya, banyak orang tua di pedesaan yang masih mengingatkan anak-anak mereka agar tidak keluar rumah tanpa alasan penting saat Malam Satu Suro tiba. Bukan karena takut semata, tetapi sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi yang diwariskan leluhur.
Terlepas dari benar atau tidaknya kepercayaan tersebut, Malam Satu Suro tetap memiliki posisi istimewa dalam budaya Jawa. Ia menjadi simbol bahwa manusia tidak hanya hidup dalam dunia yang terlihat, tetapi juga perlu menjaga sikap terhadap hal-hal yang belum sepenuhnya dipahami.
Mungkin itulah sebabnya hingga hari ini, setiap kali Malam Satu Suro datang, suasana terasa berbeda. Jalanan lebih sepi, masyarakat lebih khusyuk berdoa, dan berbagai cerita misteri kembali diperbincangkan seolah tidak pernah kehilangan daya tariknya.***
