Namun, benarkah tubuh yang merinding merupakan tanda seseorang sedang merasakan atau mendeteksi sesuatu yang tidak kasatmata?
Menurut dr. Yeni Quinta Mondiani, ahli neurologi (saraf) sekaligus dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, fenomena merinding sebenarnya merupakan proses biologis yang sepenuhnya dapat dijelaskan oleh ilmu kedokteran.
Alih-alih menjadi pertanda adanya sesuatu yang gaib, merinding justru menunjukkan bagaimana sistem saraf manusia bekerja sangat cepat dalam merespons berbagai rangsangan dari lingkungan maupun emosi yang dirasakan.
Apa Itu Merinding?
Dalam dunia medis, kondisi merinding dikenal dengan istilah piloerection, yaitu keadaan ketika bulu-bulu halus pada permukaan kulit berdiri akibat kontraksi otot-otot kecil yang berada di pangkal rambut.
Respons tersebut dikendalikan oleh sistem saraf otonom, yakni bagian sistem saraf yang bekerja secara otomatis tanpa perlu dikendalikan secara sadar.
Menurut dr. Yeni, mekanisme ini merupakan warisan evolusi manusia sejak ribuan tahun lalu.
Pada masa ketika tubuh manusia masih dipenuhi rambut yang lebih tebal, bulu yang berdiri berfungsi membuat tubuh tampak lebih besar di hadapan predator sekaligus membantu mempertahankan panas tubuh saat cuaca dingin.
Kini, meski fungsi tersebut tidak lagi terlalu penting, jalur saraf yang mengatur respons merinding masih tetap aktif hingga sekarang.
"Merinding merupakan bagian dari mekanisme pertahanan tubuh yang diwariskan dari nenek moyang manusia. Meskipun fungsi aslinya sudah tidak terlalu relevan, jalur saraf yang mengaturnya masih aktif hingga sekarang," jelas dr. Yeni.
Peran Amigdala sebagai Sistem Alarm Otak
Fenomena merinding tidak lepas dari peran amigdala, yaitu bagian otak yang bertugas mengolah emosi sekaligus berfungsi sebagai sistem alarm tubuh.
Saat otak menangkap sesuatu yang dianggap penting, mengejutkan, mengancam, atau bahkan sangat mengagumkan, amigdala akan mengaktifkan sistem saraf simpatik.
Akibatnya, tubuh melepaskan hormon adrenalin yang memicu berbagai perubahan fisiologis, seperti detak jantung meningkat, napas menjadi lebih cepat, pupil mata melebar, hingga muncul sensasi merinding.
Respons tersebut berlangsung sangat cepat, bahkan sering kali terjadi sebelum seseorang benar-benar menyadari apa yang sedang dihadapi.
Mengapa Stres dan Cemas Membuat Tubuh Mudah Merinding?
Merinding ternyata tidak hanya dipicu oleh rasa takut.
Tekanan pekerjaan, konflik keluarga, kecemasan, hingga stres berkepanjangan juga dapat memunculkan respons serupa.
Hal ini terjadi karena otak tidak selalu mampu membedakan antara ancaman fisik dengan ancaman psikologis.
Bagi sistem saraf, keduanya sama-sama dianggap sebagai kondisi yang perlu diwaspadai.
Karena itu, seseorang yang memiliki riwayat gangguan kecemasan atau trauma umumnya lebih mudah mengalami sensasi merinding dibandingkan orang lain.
Menurut dr. Yeni, kondisi tersebut disebabkan sistem alarm di otak menjadi lebih sensitif terhadap berbagai rangsangan.
Merinding Saat Mendengar Musik Ternyata Normal
Menariknya, sensasi merinding juga bisa muncul ketika seseorang mendengarkan musik favorit, menyaksikan film yang mengharukan, atau mengalami momen emosional yang sangat berkesan.
Fenomena ini sering disebut sebagai musical chills atau frisson.
Pada kondisi tersebut, otak melepaskan dopamin, yaitu zat kimia yang berkaitan dengan rasa senang, penghargaan, dan kepuasan emosional.
Inilah sebabnya seseorang bisa merinding bukan karena takut, melainkan karena merasa sangat tersentuh atau terharu.
Mengapa Kita Merinding Saat Memasuki Tempat Tertentu?
Banyak orang mengaku tiba-tiba merinding ketika memasuki bangunan tua, tempat yang sunyi, atau lokasi yang dianggap memiliki cerita mistis.
Menurut dr. Yeni, hal tersebut bukan berarti seseorang sedang menerima "sinyal gaib".
Sebaliknya, otak sedang bekerja sangat aktif memproses berbagai informasi dari lingkungan sekitar.
Suara yang samar, pencahayaan redup, perubahan suhu, aroma tertentu, hingga pengalaman masa lalu yang tersimpan dalam memori dapat dipadukan oleh otak menjadi sebuah respons emosional.
Menariknya, proses tersebut sering berlangsung lebih cepat daripada kesadaran manusia.
Akibatnya, tubuh sudah lebih dulu bereaksi sebelum seseorang memahami apa yang sebenarnya sedang dirasakan.
Dengan kata lain, merinding merupakan hasil kerja sistem saraf yang sangat kompleks, bukan bukti adanya sesuatu yang tidak terlihat.
Kapan Merinding Perlu Diwaspadai?
Meski pada umumnya merupakan respons normal, sensasi merinding tidak boleh selalu dianggap sepele.
Dr. Yeni mengingatkan masyarakat untuk segera berkonsultasi ke tenaga medis apabila merinding muncul berulang kali tanpa penyebab yang jelas, terutama jika disertai gejala lain seperti pusing, jantung berdebar, keringat berlebih, kehilangan kesadaran, atau sakit kepala yang muncul secara tiba-tiba.
Gejala tersebut bisa menjadi tanda adanya gangguan pada sistem saraf atau kondisi medis lain yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Bukti Canggihnya Sistem Saraf Manusia
Fenomena merinding menunjukkan betapa luar biasanya cara kerja otak manusia dalam membaca situasi di sekitar.
Dalam hitungan detik, otak mampu mengolah informasi visual, suara, suhu, aroma, hingga pengalaman masa lalu, lalu mengubahnya menjadi respons fisik yang terjadi secara otomatis.
Karena itu, sensasi merinding tidak selalu identik dengan sesuatu yang bersifat mistis.
Sebaliknya, kondisi ini merupakan bukti bahwa sistem saraf manusia dirancang untuk terus memindai lingkungan dan melindungi tubuh dari berbagai kemungkinan ancaman maupun rangsangan emosional.
Jadi, lain kali ketika tubuh tiba-tiba merinding, tidak perlu langsung mengaitkannya dengan hal-hal gaib. Bisa jadi, otak Anda hanya sedang menunjukkan betapa canggihnya mekanisme pertahanan alami yang dimiliki setiap manusia.***
