Hari Pahlawan: Jejak dr. Kariadi dalam Sejarah Semarang

YPAKMedia.com - Setiap 10 November, bangsa kita menghentikan sejenak langkahnya untuk mengingat dan menghormati mereka yang telah menorehkan darah dan nyawa demi meraih kemerdekaan. Di antara ribuan nama pahlawan yang tak terhitung jasanya, terdapat sosok seorang dokter dari Kota Semarang yang pengabdiannya melampaui jabatan profesi—Dr. Kariadi. Ia bukan hanya menyembuhkan, tetapi juga berdiri teguh saat kemerdekaan belum sempurna dan nyawa rakyat pun terancam. Kisahnya bukan sekadar sejarah, tetapi undangan bagi kita semua untuk menghidupi makna kepahlawanan dalam keseharian.

Sumber: murianews.com

Latar Belakang dan Pendidikan

Dr. Kariadi lahir pada 15 September 1905 di Malang (Singosari), Jawa Timur. Ia mengawali pendidikan di Hollandsch Inlandsche School (HIS) di Malang lalu di Sidoarjo hingga lulus tahun 1920. Kemudian ia melanjutkan ke Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) di Surabaya dan lulus sebagai dokter pada tahun 1931. Setelah lulus, Dr. Kariadi sempat menjadi asisten Dr. Soetomo di CBZ Surabaya, kemudian menjalani tugas di Manokwari (Papua) dan Martapura (Kalimantan Selatan), hingga akhirnya ditugaskan di Semarang.

Peran di Semarang dan Pengabdian Medis

Pada 1 Juli 1942, Dr. Kariadi diangkat menjadi Kepala Laboratorium Malaria di Rumah Sakit Pusat Rakyat (Purusara) di Semarang. Di masa pendudukan Jepang dan masa transisi kemerdekaan, ia aktif dalam penelitian penyakit seperti malaria dan filariasis—salah satu kontribusinya adalah menemukan minyak kenanga sebagai pengganti immersion oil (oleum microscopie) yang sangat berguna saat peralatan medis terbatas.

Gugurnya dan Hubungan dengan Pertempuran Lima Hari di Semarang

Situasi di Semarang sangat mencekam setelah Proklamasi Kemerdekaan. Terdapat laporan bahwa sumber air warga, Reservoir Siranda, diancam diracuni oleh pasukan Jepang. Atas permintaan pimpinan rumah sakit, Dr. Kariadi bersedia memeriksa kebenaran laporan tersebut meskipun kondisi sangat berbahaya. Dalam perjalanan menuju lokasi, mobil yang ditumpangi Dr. Kariadi dicegat oleh tentara Jepang dan ia ditembak hingga gugur pada 14 Oktober 1945 di Semarang. Kematian beliau kemudian memicu semangat rakyat Semarang untuk bangkit dalam pertempuran yang berlangsung lima hari melawan pasukan Jepang. 

Warisan dan Penghargaan

Sebagai penghormatan atas pengorbanannya, nama Dr. Kariadi diabadikan sebagai nama rumah sakit besar di Jawa Tengah: RSUP Dr. Kariadi di Semarang. Selain itu, tulisan‑tentang beliau menyebut bahwa pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengusulkan pengangkatannya sebagai Pahlawan Nasional sebagai pengakuan atas jasa‑jasanya dalam bidang medis dan perjuangan kemerdekaan. 

Makna untuk Generasi Kini

Di masa kini, perjuangan dr. Kariadi mengajarkan kita bahwa kepahlawanan tidak selalu berarti memegang senjata—melainkan memberi nyawa, ilmu, dan hati demi kemanusiaan. Di tengah pandemi, wabah, atau tantangan sosial, sosok seperti Dr. Kariadi mengingatkan bahwa tugas terbesar kita bisa jadi adalah menjaga hidup orang lain, menegakkan keadilan, dan bertindak saat banyak orang memilih diam. Dengan mengenang beliau, kita diundang untuk bertanya: Apakah saya berani menjadi “dokter bagi sesama” dalam bidang saya? Apakah saya mau berada di garis depan, bukan hanya secara fisik, tetapi moral, keilmuan, dan pelayanan?

Pada peringatan Hari Pahlawan ini, semoga kita mengambil satu pikiran: bahwa nama Dr. Kariadi tak hanya layak diukir di papan rumah sakit, tapi layak hidup dalam setiap tindakan kita sehari‑hari. Mari kita warisi semangatnya—yang menyembuhkan, yang mengorbankan, yang memberi di saat yang paling genting—agar kemerdekaan ini bukan hanya milik para pahlawan tempo dulu, tapi kita teruskan untuk generasi selanjutnya.

Sumber Artikel:

  1. “Biografi dr. Kariadi, Pahlawan yang Gugur Saat Meneliti Air yang Diracun.” Biografiku.com.

  2. “Kariadi, Dokter yang Gugur di Pertempuran Lima Hari Semarang.” Kompas.com.

  3.  "Profil dr. Kariadi, Dokter Pejuang yang Gugur Demi Rakyat Semarang.” IDN Times Jateng.

  4. “Kariadi, Dokter dan Peneliti Malaria yang Gugur Diterjang Mimıs.” Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

  5. https://infolainnya.murianews.com/murianews/268913/mengenal-sosok-kariadi-dokter-sekaligus-pejuang-yang-gugur-dalam-pertempuran-lima-hari-semarang

Editor: Senja

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama