Sejarah Kalender Masehi: Warisan Zaman Romawi yang Masih Ada

 

Sumber: ancient-origins

YPAKMedia.com - Pernahkah kamu berpikir dari mana asal nama-nama bulan seperti Januari, Februari, Maret, dan seterusnya? Pertanyaan sederhana ini mungkin jarang muncul, tapi ternyata menyimpan sejarah panjang yang menarik. Kalender yang kita gunakan sehari-hari, yang dikenal sebagai kalender Masehi, memiliki akar sejarah ribuan tahun lalu di masa Romawi Kuno.

Awalnya, bangsa Romawi menggunakan sistem penanggalan yang hanya terdiri dari sepuluh bulan. Tahun pertama mereka dimulai pada bulan Martius (Maret), dinamai dari Dewa Mars, dewa perang yang dihormati masyarakat Romawi. Kalender ini hanya memiliki 305 hari dan didasarkan pada peredaran Matahari. Bagi bangsa Romawi kala itu, sepuluh bulan dirasa cukup karena mereka mengikuti sistem desimal yang dianggap sempurna.

Namun, seiring perkembangan waktu, kalender tersebut mulai terasa tidak selaras dengan musim. Pada masa pemerintahan Raja Numa Pompilius, sekitar abad ke-7 SM, dilakukan perubahan besar: ditambahkan dua bulan baru di awal tahun, yaitu Januarius dan Februarius, sehingga jumlahnya menjadi dua belas bulan seperti yang kita kenal sekarang. Penambahan ini membuat penanggalan Romawi lebih sesuai dengan siklus bulan dan matahari.

Nama-nama bulan dalam kalender tersebut sebagian besar berasal dari nama dewa dan angka Latin. Misalnya, Martius dari Dewa Mars, Aprilis diyakini dari kata aperire yang berarti “membuka”, melambangkan musim semi yang mulai tiba. Maius berasal dari Dewa Maia, dewi kesuburan, sedangkan Junius diambil dari Dewa Juno, pelindung kaum wanita dan pernikahan. Bulan-bulan berikutnya, seperti Quintilis (kelima), Sextilis (keenam), September (ketujuh), October (kedelapan), November (kesembilan), dan December (kesepuluh), dinamai sesuai urutan bilangan dalam bahasa Latin.

Waktu berlalu, dan bangsa Romawi menyadari kalender mereka masih belum akurat. Pada tahun 46 SM, ketika Julius Caesar menjabat sebagai pemimpin tertinggi, ia memutuskan untuk memperbarui sistem penanggalan bersama Sosigenes, ahli astronomi dari Alexandria. Reformasi besar ini melahirkan Kalender Julian. Dalam sistem baru ini, satu tahun ditetapkan berjumlah 365,25 hari, dengan tambahan satu hari setiap empat tahun yang dikenal sebagai tahun kabisat. Caesar juga menetapkan 1 Januari (Januarius) sebagai awal tahun baru, bukan lagi bulan Maret seperti sebelumnya.

Sumber: thecollctor.com

Sebagai bentuk penghormatan kepada Julius Caesar, bulan Quintilis diubah namanya menjadi Julius (Juli). Beberapa dekade kemudian, penerusnya, Kaisar Augustus, melakukan hal serupa dengan mengganti nama Sextilis menjadi Augustus (Agustus). Sejak saat itu, dua bulan tersebut menjadi bagian tetap dari kalender yang kita gunakan hingga hari ini.

Meskipun kalender Julian sudah lebih akurat, seiring waktu ditemukan adanya selisih kecil dalam perhitungan hari. Maka pada tahun 1582, Paus Gregorius XIII kembali menyempurnakan sistem ini dan memperkenalkan Kalender Gregorian, yang kemudian dikenal sebagai kalender Masehi. Sistem inilah yang sekarang digunakan hampir di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Kesimpulan

Sejarah panjang penamaan dua belas bulan menunjukkan bahwa kalender Masehi bukan hanya alat untuk menghitung waktu, tetapi juga cerminan budaya, kepercayaan, dan ilmu pengetahuan manusia sepanjang zaman. Dari Dewa Mars hingga Paus Gregorius XIII, setiap perubahan dalam kalender mencerminkan usaha manusia untuk menyesuaikan hidupnya dengan alam semesta.

Kini, setiap kali kita menyebut nama bulan—Januari, Maret, atau Agustus—sebenarnya kita sedang mengucapkan warisan peradaban Romawi yang telah bertahan lebih dari dua milenium. Kalender yang kita gunakan hari ini adalah hasil perjalanan panjang manusia dalam memahami waktu, menyatukan tradisi, ilmu, dan sejarah menjadi satu sistem yang terus kita pakai hingga sekarang.

Sumber artikel:

https://www.thecollector.com/julian-calendar/

https://www.ancient-origins.net/history-important-events/where-do-names-our-months-come-009448

https://www.bing.com/ck/a?!&&p=91f62651a825a8d5d6a330dd57e417f4043b9ecd6e450a964a19bdc63781ad03JmltdHM9MTc2MjczMjgwMA&ptn=3&ver=2&hsh=4&fclid=06c98c4c-ce20-61f2-1c72-9887cf21606d&psq=Pembaruan+kalender+masehi+Delambre+dan+implikasinya+terhadap+jadwal+waktu+Salat&u=a1aHR0cHM6Ly9qdXJuYWwudW5pc3N1bGEuYWMuaWQvaW5kZXgucGhwL3VhL2FydGljbGUvZG93bmxvYWQvNzk5NS80MDc5

Editor: Senja 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama