Gajah Dikenal Sebagai Salah Satu Hewan Yang Cerdas, Lalu Seberapa Kuat Ingatannya?

 

YPAKMedia.com - Gajah selama ini dikenal sebagai hewan darat terbesar di dunia. Dengan berat mencapai 4.000–6.000 kilogram dan tinggi sekitar 3–4 meter, tubuh raksasa gajah memang menjadi ciri paling mencolok. Namun, di balik ukurannya yang besar, tersimpan fakta menarik yang jarang disadari banyak orang: gajah adalah hewan yang sangat cerdas.

Tentu saja, kecerdasan gajah tidak bisa disamakan dengan manusia. Namun dibandingkan dengan banyak hewan lain, kemampuan kognitif gajah tergolong di atas rata-rata. Mereka juga dikenal memiliki ingatan yang sangat kuat, bahkan kerap disebut-sebut memiliki “ingatan abadi”. Pertanyaannya, apakah anggapan tersebut benar secara ilmiah?

Salah satu alasan utama gajah dianggap cerdas adalah ukuran otaknya yang besar. Dalam dunia hewan, ukuran dan kompleksitas otak sering dijadikan indikator kecerdasan. Semakin besar otak seekor hewan, umumnya semakin tinggi pula kemampuannya dalam memproses informasi.

Mengutip National Library of Medicine, otak gajah memiliki berat sekitar 4,5–5 kilogram. Selain itu, otak gajah mengandung sekitar 257 miliar neuron, jauh lebih banyak dibanding otak manusia yang rata-rata memiliki 86 miliar neuron dengan berat sekitar 1,3–1,4 kilogram. Meski demikian, sebagian besar neuron gajah berfungsi untuk mengatur gerakan tubuhnya yang besar, bukan semata-mata untuk berpikir kompleks seperti manusia.

Yang membuat gajah istimewa adalah lobus temporal di bagian depan otaknya yang sangat berkembang. Lobus ini berperan penting dalam pemrosesan informasi dan memori jangka panjang. Mengutip Live Science, bagian otak ini membantu gajah mengingat rute migrasi, jalan menuju sumber air, mengenali anggota kawanan, hingga melacak sesamanya melalui indera penciuman. Bahkan, gajah diketahui mampu mengenali bahasa manusia hanya dari suara.

Kemampuan ini dibuktikan melalui penelitian tim University of Sussex di Amboseli National Park, Kenya. Para peneliti memutar rekaman suara pria dari dua kelompok etnis, yakni Suku Maasai dan Suku Kamba. Maasai diketahui memiliki sejarah konflik dengan gajah liar di masa lalu.

Hasilnya, saat suara pria Maasai diputar, kawanan gajah menunjukkan reaksi takut. Mereka berkerumun dan menjauh dari sumber suara. Sebaliknya, ketika suara pria dari Suku Kamba diperdengarkan, gajah tetap tenang seolah tidak ada ancaman. Temuan ini menunjukkan bahwa gajah tidak hanya mengenali bahasa manusia, tetapi juga mengaitkan suara dengan pengalaman masa lalu.

Meski begitu, anggapan bahwa gajah memiliki ingatan abadi sebenarnya agak berlebihan. Mengutip AZ Animals, gajah memang mampu mengingat banyak hal dalam jangka waktu panjang, tetapi ingatan tersebut umumnya bertahan belasan hingga puluhan tahun, bukan selamanya.

Dalam sebuah kawanan, gajah betina tertua biasanya menjadi pemimpin karena ia memiliki pengalaman hidup paling panjang dan ingatan terbaik. Ia mengingat lokasi sumber makanan, jalur air, serta mengenali kawan maupun musuh. Namun seperti makhluk hidup lainnya, gajah juga bisa melupakan sesuatu, terutama ketika usia mereka sangat tua atau pernah mengalami trauma.

Kesimpulannya, gajah memang memiliki ingatan yang luar biasa kuat, tetapi tidak sepenuhnya abadi. Ingatan mereka bekerja secara selektif, fokus pada hal-hal penting demi kelangsungan hidup kawanan.***

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama