Setelah bertahun-tahun diselidiki, otoritas Korea Selatan akhirnya mengungkap penyebab utama insiden tersebut. Bukan karena kerusakan teknis ataupun cuaca buruk, melainkan akibat tindakan tidak disiplin salah satu pilot yang melakukan selfie dan merekam video selama penerbangan.
Temuan tersebut dipublikasikan oleh Dewan Audit dan Inspeksi Korea Selatan dan langsung memicu perhatian publik. Selain mengungkap penyebab kecelakaan, laporan itu juga menyoroti lemahnya pengawasan terhadap aktivitas dokumentasi di dalam kokpit pesawat tempur.
Berawal dari Keinginan Mengabadikan Momen
Menurut hasil investigasi, insiden bermula ketika pilot pesawat pendamping ingin mengabadikan penerbangan terakhirnya bersama satuan tempat ia bertugas.
Agar mendapatkan sudut pengambilan gambar yang lebih menarik, pilot melakukan manuver menanjak dan memiringkan pesawat tanpa memperoleh izin dari komando penerbangan.
Di saat yang sama, pilot pesawat utama juga diketahui sedang merekam video selama latihan berlangsung.
Perubahan posisi pesawat yang dilakukan secara tiba-tiba membuat jarak kedua jet tempur semakin rapat. Meskipun kedua pilot sempat mencoba menghindari tabrakan, benturan tetap tidak dapat dicegah.
Bagian ekor pesawat pendamping akhirnya menghantam sayap pesawat utama hingga menyebabkan kerusakan cukup serius pada kedua jet tempur.
Tidak Ada Korban, Kerugian Capai Rp10,78 Miliar
Beruntung, kecelakaan tersebut tidak menimbulkan korban jiwa maupun korban luka. Kedua pilot berhasil mengendalikan pesawat sehingga dapat mendarat dengan selamat.
Namun, kerusakan yang ditimbulkan tidaklah kecil. Dewan Audit dan Inspeksi Korea Selatan memperkirakan total kerugian mencapai sekitar US$600.000 atau setara Rp10,78 miliar.
Biaya tersebut digunakan untuk memperbaiki berbagai komponen pesawat tempur yang mengalami kerusakan akibat benturan saat latihan formasi.
Angkatan Udara Korea Selatan Minta Maaf
Menyusul terungkapnya hasil investigasi, Angkatan Udara Korea Selatan menyampaikan permintaan maaf secara resmi kepada masyarakat.
Dalam konferensi pers yang dikutip dari The Guardian, juru bicara Angkatan Udara mengakui adanya kelalaian yang menyebabkan insiden tersebut.
"Kami dengan tulus meminta maaf kepada publik atas kekhawatiran yang disebabkan oleh kecelakaan yang terjadi pada tahun 2021," ujar juru bicara Angkatan Udara Korea Selatan.
Permintaan maaf tersebut sekaligus menjadi bentuk tanggung jawab institusi atas lemahnya pengawasan terhadap aktivitas yang dilakukan awak pesawat selama penerbangan.
Pilot Dijatuhi Hukuman Berat
Hasil investigasi menyimpulkan bahwa pilot pesawat pendamping merupakan pihak yang paling bertanggung jawab atas kecelakaan tersebut.
Sebagai konsekuensinya, ia dijatuhi sanksi disiplin berat berupa skorsing dari tugas penerbangan. Selain itu, pilot tersebut juga diwajibkan mengganti sekitar sepersepuluh dari total kerugian akibat kecelakaan.
Meski demikian, Dewan Audit juga menilai kesalahan tidak sepenuhnya berada pada individu. Sistem pengawasan internal Angkatan Udara dinilai belum memiliki aturan dan kontrol yang memadai terkait aktivitas pengambilan foto maupun video saat misi penerbangan berlangsung.
Pelajaran Penting bagi Dunia Penerbangan Militer
Kasus ini menjadi pengingat bahwa setiap prosedur keselamatan dalam penerbangan militer dibuat untuk alasan yang sangat penting. Aktivitas yang tampak sederhana, seperti mengambil selfie atau merekam video demi kepentingan pribadi, dapat mengganggu konsentrasi pilot dan memicu kesalahan fatal.
Insiden tabrakan dua jet tempur F-15K ini menunjukkan bahwa disiplin, kepatuhan terhadap prosedur, serta pengawasan yang ketat merupakan faktor utama dalam menjaga keselamatan penerbangan. Tanpa ketiganya, risiko kecelakaan dapat meningkat, meskipun melibatkan pilot berpengalaman dan pesawat tempur dengan teknologi canggih.***
